Langsung ke konten utama

Dinamika Rasa


Selalu saja datang tanpa aba aba.

Tak peduli kebetulan atau sengaja.

Selalu saja membuat nyaman dan sulit dilupa.

Sampai waktupun  tidak berdaya menghapusnya.

Mungkin, karena terlalu indah untuk diabaikan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Rindu....

Aku rindu, Pada mendung yang meredup bersama kelabu Aku rindu, Pada hujan yang berisik bersama tarian air langit  Aku rindu, Pada senja yang menguning bersama lembayung di garis horizon barat Aku rindu, Pada malam yang menghitam bersama temaram di ujung cakrawala Aku rindu, Pada fajar yang menyingsing bersama zikir para muallim Dan aku rindu,  Pada niskala yang kini menjadi lengkara

Hijrah in Kajang

Tradisi 25 Ramadhan ( mungkin yang terakhir)  Siang telah merampungkan tugasnya menyapa bumi tempat Tita berpijak dengan kehangatan. Kini saatnya malam yg bertugas menyelimuti Tita dan penduduk desa Tana Toa dengan dingin yg mencekam. Tita baru saja tiba dari kota membawa setumpuk rindu kepada desa yg menjadi saksi bagaimana Tita bermetamorfosis dari anak kecil ingusan nan culun menjadi gadis dewasa, manis nan cerdas. Juga rindu kepada pemilik rumah tempat Tita  sedang bermesra dgn damainya senja desa nya, kepada nenek tercinta.  "Ta, ayo masuk nak. Sudah mulai gelap" ajak nenek dari dalam rumah panggung yg sangat sederhana.  "Iyya nek." "Kamu nyalakan sulo dulu" ( pelita yang terbuat dari botol kaca bekas dan sumbu terbuat dari kain yang bisa menyerap minyak tanah) "Iyya nek" Rumah nenek memang tak seperti rumah rumah modern pada umumnya. Dinding dan lantainya terbuat dari rajutan bambu, sementara atap nya terbuat dari daun ke...

KAU yang tak bernama

Kau, dengar.  Kau adalah alfabet yang tidak bisa kurangkai menjadi kata. Kau adalah aksara yang tidak bisa kujabarkan ke dalam diksiku. Kau adalah sajak yang terlalu indah untuk kumaknai dengan sudut pandangku Kau adalah bahasa terumit yang selalu gagal kupahami. Kau adalah akar yang tumbuh besar menyerap nalarku. Kau adalah api yang membakar logikaku tanpa sisa. Kau adalah trauma yang menghantui amygdalaku. Kau adalah potongan realita yang tidak mampu kusempurnakan. Kau adalah lengkara yang tidak bisa kupaksa nyata. Kau adalah kebisingan yang memecah heningku. Kau adalah gaduh paling berisik yang selalu menari di kepalaku. Kau adalah amarah yang selalu merusak sabarku Kau adalah dendam  yang mengoyak ikhlasku Kau adalah benci yang tak mampu kutuntaskan Kau adalah kau dengan segala kemegahanmu. Kau adalah kau dengan segala misterimu. Kau adalah kau dengan segala kebisuanmu.