Tradisi 25 Ramadhan (mungkin yang terakhir)
Siang telah merampungkan tugasnya menyapa bumi tempat Tita berpijak dengan kehangatan. Kini saatnya malam yg bertugas menyelimuti Tita dan penduduk desa Tana Toa dengan dingin yg mencekam. Tita baru saja tiba dari kota membawa setumpuk rindu kepada desa yg menjadi saksi bagaimana Tita bermetamorfosis dari anak kecil ingusan nan culun menjadi gadis dewasa, manis nan cerdas. Juga rindu kepada pemilik rumah tempat Tita sedang bermesra dgn damainya senja desa nya, kepada nenek tercinta.
"Ta, ayo masuk nak. Sudah mulai gelap" ajak nenek dari dalam rumah panggung yg sangat sederhana.
"Iyya nek."
"Kamu nyalakan sulo dulu"
(pelita yang terbuat dari botol kaca bekas dan sumbu terbuat dari kain yang bisa menyerap minyak tanah)
"Iyya nek"
Rumah nenek memang tak seperti rumah rumah modern pada umumnya. Dinding dan lantainya terbuat dari rajutan bambu, sementara atap nya terbuat dari daun kelapa tua yang dirajut sedemikian rupa. Tak ada cahaya lampu di rumah nenek sehingga malam di sana akan sangat gelap, hanya ada cahaya sulo yg kadang membuat lobang hidung hitam. Hanya ada suara jangkrik sedang bernyanyi girang.
"Ayo makan nak"
"Masih kenyang nek, tadi sore tita makan kampoddo + ja'ja"
(Kampoddo' merupakan nasi lembek yang diambil dari beras yg patahannya sangat kecil, ja'ja' ikan asin yang diawetkan dalam keadaan masih lembab)
"Kalau begitu kamu tidur saja, besok kita harus ke rumah ja'ja Hani"
Ja'ja Hani adalah seorang penenun sarung hitam. Banyak anak gadis yg diajarinya menenun kain hitam sebagai bahan dasar pembuatan sarung kebanggaan orang /suku Kajang, sarung hitam. Bahkan menurut beberapa orang setempat, seorang gadis baru akan bisa menikah jika sudah mahir menenun.
Pagi telah datang menyapa penduduk bumi membawa kesegaran sebagai hadiah termanis yang mungkin tak sempat dicicipi sebagian orang yg masih bermesra dgn selimut tebalnya. Hawa dingin sangat terasa di perkampungan tua itu. Maklum saja kampung tersebut terlatak hampir di tengah hutan lebat. Hari ini sebagaimana biasanya setiap hari ke-25 ramadhan, upacara pembersihan kuburan akan digelar. Setiap kerabat akan mendatangi makam saudara, sahabat ataupun org yg dikenal semasa hidupnya untuk dibersihkan dari pelukan sang rumput liar. Lalu kemudian setelah itu akan diberi buah pinang dan daun sirih yg dipercaya sebagai makanan bagi si mayat.
Suasana di perkuburan nenek moyang Tita sangat ramai, Tita sdh lama tak mendatangi tempat itu, seingatnya terakhir ia ke makam kakek sejak masih SD, dan sekarang Tita sudah semester pertengahan di universitas. Di antara sekian banyak makam tua yang ada, makam yg berbatu nisan paling putih dipojok perkuburan di bawah pohon beringinlah yg menjadi tujuan Tita, nenek dan ja'ja Hani, itu adalah kuburan kakek Tita. Sesampainya mereka, ternyata Tita dan rombongan bukan orang pertama yg mendatangi makan tersebut, di sana banyak sanak keluarga yg gotong royong membersihkan makam sang kakek.
Banyak yg tak mengenali Tita, selain krn gaya berpakainnya yg sdh berubah juga sedari tadi ia hanya diam. Beberapa kali Tita mendengar nenek memperkenalkan dirinya dan alasan mengapa jilbabnya kini sangat panjang.
InsyaaAllah bersam
Komentar
Posting Komentar