Menjadi mahasiswa adalah satu fase baru dan bersejarah dalam sejarah hidup seorang pelajar. Menjejaki dunia kampus tidak lepas dari ragam problematika yang tersuguhkan dengan apik. Idealisme bahwa kampus adalah sarangnya orang-orang terpelajar agaknya terlalu mainstream di telinga masyarakat umum. Jargon Agen of Change adalah semboyan lama yang selalu diperbaharui seiring dengan lahirnya mahasiswa baru dari proses seleksi masuk perguruan tinggi. Bukan tanpa alasan mengapa gelar Agen of Change itu dihadiahi kepada manusia pilihan bergelar 'mahasiswa', katanya mereka adalah bibit unggul yang nantinya akan menjadi agen pembaharu (entah pembaharu dalam hal apa), agen pembawa perubahan dan lain lain yang semuanya terkadang hanya retorika di atas kebanggaan memakai almamater.
Nyatanya, menjalani hidup sebagai seorang mahasiswa (yang katanya kaum intelek) tidak seindah hidup nobita yang memiliki doraemon dengan kantong ajaibnya atau pun seindah kisah Cinederella dalam dongeng pengantar tidur. Dunia kampus adalah dunia yang sarat dengan perjuangan dan pengorbanan. Dunia kampus adalah medan ujian yang cukup terjal. Namun, produk dari perjuangan, pengorbanan dan ujian itu adalah mentalitas yang kuat dan kesabaran yang tanpa batas.
Bagi sebagian mahasiswa, berjuang dan berkorban dengan cara yang halal adalah harga diri. Kejujuran adalah yang hal perlu mengawal semua proses panjang dalam perkuliahan. Namun bagi sebagian lainnya, menjadi bagian dari masyarakat kampus hanya sebuah formalitas belaka dalam rangka mencapai gelar sarjana. Ketika sudah demikian adanya, pertanyaan yang kemudian terbesit dalam benak penulis adalah: apakah “Agen Perubahan, Agen Pembaharu” (dan jargon lainnya) masih pantas disematkan kepada mahasiswa tipe ini?
Bukan tanpa dasar jargon yang sarat dengan nilai-nilai idealisme itu dipertanyakan. Apa yang dipertontonkan realitas saat ini berkata lain tentang mahasiswa. Ketika idealisme mulia tak lagi sejalan dengan realita. Kelakuan mahasiswa seolah tak menunjukkan bahwa mereka adalah orang-orang terdidik lagi cerdas. Sebut saja fenomena ‘ayam kampus’. Ini adalah sesuatu yang menurut hemat penulis merupakan peran yang tak seharunya dilakoni oleh mereka yang notabenenya adalah kaum terpelajar, dan sebagai Agen of Change tentunya!.
Kita tau bahwa salah satu pangkal dari kisah miris tentang seorang kawan bergelar ganda ‘ayam kampus' adalah tuntutan lifestyle. Terbawa arus ke dalam pola hidup hedon yang selalu ingin tampil kece dengan ragam merek namun berseberangan dengan kemampuan finansial, sehingga yang terjadi adalah mereka muncul sebagai seorang konglomerat boongan.
Banyak cara yang dilakukan untuk memenuhi tuntutan lifestyle dan hasrat ingin terlihat ‘WAH’. Salah satunya adalah terjun menjadi pajangan dalam etalase penjual kenikmatan. Ini adalah sebuah fenomena yang mengiris-ngiris hati ibu pertiwi. Generasi emas bangsa terjerumus dalam perilaku generasi ‘besi karatan’ bangsa.
Sebagai sosok manusia yang menurut pandangan anak SD adalah orang PINTAR, seharunya ayam kampus berpikir bahwa perbuatan mengkomersilkan kehormatan adalah sikap yang sangat tidak terhormat, terlepas dari apa pun motifnya. Selain berdampak buruk bagi sang pelaku, juga akan menodai gelar suci ‘mahasiswa’ itu sendiri, konsep 1 pelaku membuat satu kelas menjadi tersangka merupakan sanksi sosial yang harus diterima mahasiswa lain. Mengingat sikap masyarakat yang acapkali menggeneralkan secara membabi buta suatu perkara, misal terbutakan dari 1000 kebaikan orang lain hanya karena 1 kesalahan. Misalnya saja, 1 orang saja mahasiswa yang berbuat, maka mahasiswa lain akan turut terkena getahnya. Selain itu, mau dikemanakan eksistensi ayam kampus sebagai agen perubahan (gak mungkin kan di bawa ke laut?).
Memang, ujian ekonomi selalu mengambil porsi besar dalam cawan perjuangan dan pengorbanan mahasiswa. Namun kembali ke konsep awal bahwa ketika itu semua mampu dilewati dengan jalan yang benar dan halal, maka bonus yang dijanjikan adalah mentalitas kuat dan pendewasaan diri. Ketika itu terjadi, peran sebagai agen perubahan benar-benar akan teraplikasikan dengan nyata dan tidak hanya menjadi teori indah yang ditulis rapi dalam buku catatan pengkaderan Lembaga Mahasiswa.
Masa depan bangsa juga ditentukan oleh bagaimana kampus melahirkan generasi unggul, namun jika ternyata di dalam kampus ada seekor ayam yang berani ngampus dan berkeliaran mencari kawan, maka yang menjadi tanda tanya besar adalah mampukah kampus melaksanakan tugasnya sebagai pencetak generasi unggul?
sesungguhnya, yang menjadi tantangan terberat itu adalah realita setelah lulus kuliah, sayangnya masih saja ada oknum yg terjerat oleh kasus ayam kampus, gaya hidup hedon di masa kini juga sebuah tantangan, memang satu2nya cara untuk menghindari hal tsb dgn memiliki pendirian dan keimanan yg tinggi
BalasHapusAyam kampus...bukan untuk dikonsumsi (dikunyah dan ditelan lalu jadi t@i), tapi kehadirannya menjadi konsumsi publik.
BalasHapus-mereka melakukan perubahan, dari diri milik sendiri jadi diri untuk ditid*ri.
*membaca kata "agen" saya agak geli. Apalagi saat membaca kata "ayam kampus" saya semakin geli. -siapapun ia si "ayam kampus", bagiku ia tetap manusia. Jika ada pemberatan, kupikir "kampus" yang memiliki porsi lebih berat.
Agen of cahange memang sebuah jargon yg lekat dgn mahasiswa..Kalau ingat lagi..muncul pertanyaan besar sejauh mana kita mengupayakan hal itu..jgn sampai 4 tahun kuliah dan ndak bsa bawa perubahan..cuma bsa gaya" an #Selfreminder
BalasHapus