Langsung ke konten utama

DIA


Laksana embun,
Dekapannya menyusupkan kesejukan
Laksana rinai,
Hadirnya menumbuhkan benih benih kehidupan
Laksana intan,
Kilaunya melenyapkan nestapa

Bahunya bukan baja,
Namun disanalah tertopang sebuah tanggungjawab besar
Tangannya bukan besi,
Namun di sanalah digenggam segala kewajiban
Kakinya bukan roda
Namun disanalah kilo demi kilo ditempuh untuk menjemput kebahagiaan

Waktu telah bersaksi
Bahwa
Di balik wajah lesunya, pernah terpasang kegagahan
Dibalik tubuh kurusnya, pernah berdiri sosok yang kekar

Malam telah melihat
Betapa tidurnya tak senikmat para raja
Ada cinta yang selalu terbayang
Ada kesetiaan yang selalu ia jaga agar tak beranjak

Ribuan cobaan telah menghujam batinnya
Namun Cinta dan amanah selalu melapangkan jiwanya
Meski terkadang lelah, ia tetap setia

Ayah,
Dalam rindu wajahmu terbayang
Mampukah ku usap sedikit saja peluh yang kau tumpahkan?

Ayah,
Dalam hening suaramu terngiang,
Tak terdengar gombalan manis bersayutan,
Hanya ada doa yang teruntai,
Asa yang membumbung
Dan harapan yang melangit
Dan semua itu untukku.

Ayah,
Semua akan berakhir dengan peristirahatan terindah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Rindu....

Aku rindu, Pada mendung yang meredup bersama kelabu Aku rindu, Pada hujan yang berisik bersama tarian air langit  Aku rindu, Pada senja yang menguning bersama lembayung di garis horizon barat Aku rindu, Pada malam yang menghitam bersama temaram di ujung cakrawala Aku rindu, Pada fajar yang menyingsing bersama zikir para muallim Dan aku rindu,  Pada niskala yang kini menjadi lengkara

Hijrah in Kajang

Tradisi 25 Ramadhan ( mungkin yang terakhir)  Siang telah merampungkan tugasnya menyapa bumi tempat Tita berpijak dengan kehangatan. Kini saatnya malam yg bertugas menyelimuti Tita dan penduduk desa Tana Toa dengan dingin yg mencekam. Tita baru saja tiba dari kota membawa setumpuk rindu kepada desa yg menjadi saksi bagaimana Tita bermetamorfosis dari anak kecil ingusan nan culun menjadi gadis dewasa, manis nan cerdas. Juga rindu kepada pemilik rumah tempat Tita  sedang bermesra dgn damainya senja desa nya, kepada nenek tercinta.  "Ta, ayo masuk nak. Sudah mulai gelap" ajak nenek dari dalam rumah panggung yg sangat sederhana.  "Iyya nek." "Kamu nyalakan sulo dulu" ( pelita yang terbuat dari botol kaca bekas dan sumbu terbuat dari kain yang bisa menyerap minyak tanah) "Iyya nek" Rumah nenek memang tak seperti rumah rumah modern pada umumnya. Dinding dan lantainya terbuat dari rajutan bambu, sementara atap nya terbuat dari daun ke...

KAU yang tak bernama

Kau, dengar.  Kau adalah alfabet yang tidak bisa kurangkai menjadi kata. Kau adalah aksara yang tidak bisa kujabarkan ke dalam diksiku. Kau adalah sajak yang terlalu indah untuk kumaknai dengan sudut pandangku Kau adalah bahasa terumit yang selalu gagal kupahami. Kau adalah akar yang tumbuh besar menyerap nalarku. Kau adalah api yang membakar logikaku tanpa sisa. Kau adalah trauma yang menghantui amygdalaku. Kau adalah potongan realita yang tidak mampu kusempurnakan. Kau adalah lengkara yang tidak bisa kupaksa nyata. Kau adalah kebisingan yang memecah heningku. Kau adalah gaduh paling berisik yang selalu menari di kepalaku. Kau adalah amarah yang selalu merusak sabarku Kau adalah dendam  yang mengoyak ikhlasku Kau adalah benci yang tak mampu kutuntaskan Kau adalah kau dengan segala kemegahanmu. Kau adalah kau dengan segala misterimu. Kau adalah kau dengan segala kebisuanmu.